I ADMIT THAT MY DAD IS REALLY MY HERO...

Oke, di Minggu sore ini aku lagi googling tentang 'pengalaman membuat tugas' tapi kenapa jadi nyasar ke sebuah blog yang isinya tentang figur orang yang kita kenal, sangat dekat. Mereka adalah orang tua kita. Yup, tapi di sini aku mendapatkan postingan tentang AYAH. Entah kenapa postingan ini begitu sangat menyentuh hatiku. Sebenarnya aku belum baca sampai akhir, tapi untuk kata pengantarnya dulu. Karena ini menyangkut masalah AYAH, tentang AYAH. Aku mau buatkan satu posting untuk AYAHku, kebetulan aku sangat dekat dengan papaku. Hmm, katanya sih kalau AYAH itu pasti lebih dekat dengan anak perempuannya. Tapi who knows... Pokoknya langsung baca aja deh ya, siapa tau ada yang lagi kangen sama AYAH nya mungkin :D Oh ya, aku lihat artikel ini dari blog orang terus dari dia, aku dapet informasi, sumber postingan ini dari facebook, berarti mungkin udah sangat amat lama, dia posting tanggal 24 November 2009 sih :D Di setiap sesi cerita mungkin aku akan kasih sedikit komentar tentang pengalaman aku nya, oke oke?? Let's enjoy :D

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja di perantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.

(Dari kalimatnya pertama aja yaaa, wah ini sama persis kayak aku, yang sudah hampir dua minggu ini merantau di kota Bandung sebagai salah satu Mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan yang notabennya harus jauh atau harus nge kost sendiri di dekat Univ tersebut. Hidup sendiri, tanpa keluarga, hanya mengandalkan delivery order untuk makan atau nyari sambil jalan kaki ==", mengandalkan pembantu untuk cuci baju ==" astajim susahnya itu lhooo...)


Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

(Ah, nggak terlalu ah :p)


Lalu bagaimana dengan Papa?


(Eits, malahan aku lebih kangen sama papaku, kalau papaku nggak telepon sehari kayaknya ada yang kurang gtu perasaan teh :D)


Mungkin Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari.


(Iya sih, bener juga :D Mama aku sering sms aku, tanya kabar aku, kalau tahu aku kelas kuliah nya di lantai 7 terus aku ke sana nya naik tangga, wah Mamaku beraksi deh, ceramah terus, harus naik lift lah, jangan jadi orang pinter tapi bodoh ==" Hello, aku teh mau olahraga tahuu, tapi aku harus memaklumi kekhawatiran mamaku, betul?)


Tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?


(Wah, kalau ini aku nggak tahu deh...)


Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?


(Betul sekali, sehabis bekerja papaku sering tanya, "Mana si Ririn (panggilan keluarga aku) ??")


Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya", Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.


(Naik sepeda?? Pengalaman ini sebenarnya aku lupa, tapi aku pernah lah diajarin naik sepeda, tapi aku nggak bisa ceritain apa-apa deh ;'( wkwkwk, udahlah yang pasti papaku donk yang ngajarin sampe bisa)


Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.


Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang.". Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?


(Yoa, ini bener banget. Mamaku dengan tatapan 'ingin' saja langsung luluh hatinya, Tapi tidak dengan papaku, YA artinya YA dan TIDAK artinya TIDAK. Bener emank, terkadang untuk mendapat apa yang aku inginkan sangat susah. Sebab aku sadar, papaku tidak mau membesarkan aku dengan kemanjaan :) Tapi nggak ada salahnya kan beli in sekali sekali mah ?)


Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata: "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!". Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.


(Boleh lah ini juga. Persis sama papaku... )


Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!". Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama. Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, "Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
"

(Oh Man! Ini nih yang paling nancep dari awal cerita sampai bagian ini. Rasanya kok aku banget gitu lho, eits tapi tidak dengan membanting pintunya lhoo... Terkadang, aku pengen banget bisa keluar rumah, hang out sama temen-temen aku, kumpul, main. Jangankan ke Jakarta, ke tempat yang deket aja tuh terkadang susah banget dapat izinnya, dapet izin pun setelah berjanji ini dan itu. Tapi setelah membaca artikel ini, alasan kenapa papa melakukan hal seperti itu, aku sedikit sadar juga, bahwa papa aku tuh nggak mau aku kenapa-kenapa... Hmm >.< jadi agak bersalah sama papaku. Tapi please, izinin aku walau sekali bertemu dengan temanku, paaa...)


Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia. Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?


(Sorry, belum ada pengalaman, wkwkwk )


Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut. Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.


(Nah, ini aku pernah lakuin pas pulang dari ultah temen sampai jam 10 atau jam 11 lah yang paling malam, dan serius hmm atau tujuh rius deh, papaku emank bener-bener terlihat khawatir dan setelah aku datang, raut papaku berubah lega, meski sedikit jengkel.)


Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

(Atau seorang AKUNTAN???)


Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa.

(Oh... So sweet...)


Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah di kota lain. Papa harus melepasmu di bandara.

(
Hmm, nggak bandara juga kalii klo aku mah, wkwk :D Seru juga tuh kalo melepaskan diriku di bandara, dibayangan aku, papaku teriak, "RIRIN!!! RIRIN!!!")

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang". Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT, ya KUAT untuk pergi dan menjadi dewasa.


(Aduh, sumpah deh, ini sedih banget. Emank bener sih, mengeluarkan air mata bagi seorang ayah tuh sulit banget, jadi pengen nangis deh...)


Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan... Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!" Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu". Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

(Hmm untuk yang satu ini, untuk barang permintaan, aku nggak muluk-muluk kok, barang yang dibutuhkan baru akan aku minta, tapi untuk masalah kayak BlackBerry (supaya setara dengan hampir semua penghuni perkuliahan) aku nggak pernah minta kok, serius, dibeliin mengucap syukur, nggak juga ya nggak apa apa)

(Nah bagian ini aku belum mengalaminya, so baca aja yaa...)


Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "Putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang."

Sampai saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Papa tahu.Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya...

Saat Papa melihatmu duduk di kursi pelaminan bersama seseorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia.

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan, tugasku telah selesai dengan baik. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.. Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."


Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk.

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.

Papa telah menyelesaikan tugasnya...

Papa, Papi, Ayah, Bapak, atau Abah kita...


Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...


Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis.
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal.

SELESAI

Pertanyaannya untuk kalian yang sudah membaca,

BAGAIMANA DENGAN AYAH KALIAN ?

KITA HARUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA
"MY DAD IS MY HERO AND MY MOM IS MY ANGEL!"

Karina Aprillia
0 Responses

My Plurk

My Fav Song, Please Listen...